Senin, 16 Desember 2013

teori karir Donal E super



MAKALAH BIMBINGAN KARIR
TEORI SUPER
DOSEN PENGAMPU : DODY HARTANTO, M.PD.






DisusunOleh:
Nova rizki andriarta                            : 08001098
Nazmi                                                  : 11001088
Puput agung darmawan                      :11001061
Azis candra wisnuaji                           : 11001072
Choirul nisa                                         :11001077
Lili karlia         `                                   :11001108
Mujahida ahmad                                 :11001109
Sambada panji muhammad                 :11001113

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA
2012
BAB I PENDAHULUAN 
Latar Belakang
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling banyak masalah konseli yang salah satunya berkaitan dengan masalah karir, yang mana karir ini dijalankan seorang individu selama rentang hidupnya. Dengan ini agar pencapaian kompetensi siswa yang optimal diperlukan suatu layanan, bantuan, atau pendekatan terhadap siswa untuk memecahkan masalah karir, memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya antara kemampuan dan lingkungan hidupnya, memperoleh keberhasilan dan perwujudan diri dalam perjalanan hidupnya.
Dan dengan itulah muncullah teori-teori tentang karir yang  diantaranya menjelaskan tentang bagaimana menentukan karir dan tahap-tahap perkembangan karir. Dan dengan teori-teori ini bisa membantu seorang konselor agar dalam melakukan bimbingan karir tidak hanya mengacu pada aspek pengetahuannya saja.
Dan dengan ini kelompok kami mengangkat tentang salah satu teori karir yaitu teori Donald E. Super.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa itu pengertian teori donald e. Super dan mengapa teori super dijadikan dasar bagi rentang hidup ?
2.      Apa peran hidup yang utama dalam teori super ?
3.      Apa saja tahap perkembangan pada teori super ?
4.      Apa definisi dari kematangan karir dan apa saja indikator-indikator dari kematangan karir dari teori super ?
5.      Apa saja tugas individu dalam perkembangan karir?
6.      Bagaimanakah perspektif gejala alam gagasan konsep kerja diri
7.      Seperti apa kontekstual perspektif peran sosial dan interaksi mereka dalam rentang hidup?
 
BAB II              PEMBAHASAN
1.      TEORI PENGEMBANGAN KARIR SUPER’S

Donald E. Super's (1.910-1.994). karir teori pembangunan merupakan pandangan rentang kehidupan yang paling banyak dikenal dari pengembangan karir lainnya. Teori perkembangan mengenali perubahan yang orang pergi melalui saat jatuh tempo, dan mereka menekankan pendekatan rentang hidup dengan pilihan karir dan adaptasi. Teori-teori ini biasanya dibagi dalam kehidupan kerja yang bertahap, dan mereka mencoba untuk menentukan perilaku kejuruan yang khas pada setiap tahap. Pada tahun 1950, ketika Super’s mulai merumuskan konsep teoritis nya, berbeda dengan teori jiwa, teori sifat dan faktor  meresap konseling kejuruan. Asumsi yang dominan adalah bahwa kemampuan yang berbeda dan kepentingan penting dalam menentukan pilihan pekerjaan dan kesuksesan. Untuk alasan ini, konseling kejuruan dipandang kritis terutama sebagai proses membantu individu sesuai dengan kemampuan mereka dan sifat-sifat lainnya dengan yang dibutuhkan oleh pekerjaan diakses. Dengan menerapkan model yang cocok, praktisi bimbingan kejuruan membantu klien mereka dalam memilih dengan "benar" bimbingan konseling yaitu yang serasi atau sebangun dengan kemampuan individu, minat, dan kepribadian. Super mengakui kontribusi berharga merupakan sifat dan faktor dari teori dan model yang cocok untuk teori kejuruan dan praktik bimbingan. Tapi dia juga percaya bahwa mereka terlalu statis dan tidak cukup menjelaskan kompleksitas perilaku bimbingan kejuruan. Super menyatakan bahwa pilihan pekerjaan harus dilihat sebagai proses berlangsung, bukan keputusan oleh jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, ia melanjutkan untuk melengkapi pendekatan sifat-dan-faktor dengan membangun sebuah teori karir yang komprehensif di mana: a) pengembangan karir dipandang sebagai proses berlangsung seumur hidup dalam serangkaian tahap perkembangan dan b) pemilihan karir bukanlah keputusan sepihak tapi hasil kumulatif dari keputusan seri. Dalam usahanya untuk membentuk sebuah teori karir yang komprehensif pada tahun 1950 dan pertengahan 1990-an, Super melengkapi pendekatan individual, perbedaan tradisional

            Pendekatan teori rentang hidup banyak didasari oleh hasil analisis Donald E.super.beberapa alasan mengapa teori super dijadikan dasar bagi teori rentang hidup adalah sebagai berikut.
a)   Teori perkembangan super adalah salah satu teoi yang menggambarkan sebagian kecil rentang hidup.
b)   Ada beberapa teori rentang hidup yang kemudian dikembangkan oleh super menjadi suatu bentuk valid dalam teorinya disertai instrument yang dapat digunakan dlam koseling.
c)   Banyak penelitian yang dihubungkan dengan konseling dari teori perkembangan super.
d)  Beberapa karakter dan factor dari teori perkembangan karir banyak memiliki kemiripan.

Perkembangan aspek psikologis sosio-ekonomis inilah terbentuk kosep diri (self concept) individu sebagai hasil dari upaya mempelajari diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, teori super mengemukakan teorinya tentang pemilihan karir sebagai implementasi konsep diri. Menurut teori Super (Surya, 1998 : 234) berkaitan dengan pemilihan karir adalah sebagai berikut :
a)         Individu itu mempunyai kualifikasi atau kewenangan untuk banyak bidang pekerjaan.
b)         Setiap bidang pekerjaan menurut pola karakteristik kecakapan dan ciri-ciri pribadi.
c)         Meskipun konsep diri individu dan situasi sosial berubah, proses pemilihan tetap berlangsung sejalan dengan pertumbuhan, mulai dari tahap eksplorasi, pemantapan, dan penurunan.
d)        Pola-pola karir (tingkat, urutan, dan durasi pekerjaan) berkaitan dengan tingkat sosio-ekonomi orang tua, kecakapan, kepribadian, dan kesempatan.
e)         Perkembangan vokasional (karir) sebagai implementasi konsep diri merupakan hasil interaksi antara pembawaan, faktor fisik, kesempatan peran-peran tertentu, dan teman sebaya dan orang yang memiliki kelebihan.
f)          Keterpaduan antara variabel individu dan lingkungan, antara konsep diri dan tantangan realitas dibuat melalui kesempatan bermain peranan dan fantasi.
g)         Kepuasan tergantung pada kesempatan memperoleh kepuasan kebutuhan pribadi, dan situasi kerja yang memberikan kesempatan bermain peranan.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut lahirlah konsep Super yang berkaitan dengan peran-peran hidup (life roles) dan tahap-tahap perkembangan (developmental tasks).


A.    Peran-peran Hidup (life roles)
Konsep yang dikembangan dalam teori Super salah satunya adalah konsep tentang peran hidup (life roles). Super mendeskripsikan pada enam peran hidup yang utama, yaitu anak-anak (child), pelajar (stundent), aktivitas di waktu luang (leisure), warga masyarakat (citizen), pekerjaan (worker), dan peran dalam keluarga (liomemaker). Peran aktivitas dalam waktu luang, pelajar dan anak-anak merupakan inforemasi penting bagi anak-anak, sedangkan peran pekerja, warga masyarakat dan rumah tangga (dalam konsep tanggung jawab masing-masing peran) sangatlah minim. Baru tahap remaja, peran masyarakat dan pekerja dapat menjadi peran penting, tetapi tetap dalam batas-batas tertentu. Pada tahap ini, pekerja sering dihubungkan secara tidak langsung untuk pengetahuaan tentang karir. Pada masa dewasa fungsi dan kemampuan dalam memilih peran hidup menjadi unsur penting dalam perkembangan karir, khususnya sejak menginjak masa remaja akhir.
Keenam peran utama individu yang disebutkan oleh Super terkenal dengan istilah “pelangi karir kehidupan” (the life career rainbow). Dimensi longiitudinal dari gambar tersebut menunjukan rentanga kehidupan “maxicyle”, yang mencakup tahap-tahap perkembangan karir dari taham pertumbuhan (groloth) sampai dengan tahap kemunduran (decline).
B.     Tahap Perkembangan (developmental tasks)
Proses Perkembangan Karir Donald Super:
1)               Fase Pengembangan (Growth)
Setiap individu yang dilahirkan mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda, dimana setiap karakter ini memiliki sebuah keunikannya masing-masing.
Ketika individu berumur kurang dari 15 tahun, pada masa itu setiap anak akan mengembangkan setiap potensi yang ada pada dirinya, pandangan khas, sikap, minat, dan berbagai kebutuhan-kebutuhannya yang dipadukan anak dalam stukutur gambaran dirinya (self-concept structure).
2)               Fase Eksplorasi (Exploration
Kemudian pada umur 15 sampai 24 tahun individu akan memikirkan berbagai alternative jabatan yang dipilihnya,namun pada masa ini individu belum bisa mengambil keputusan yang sifatnya mengikat.
3)               Fase Pemantapan (Establisment)
Pada fase ini dimana individu berkisar pada umur 24 tahun sampai 44 tahun. Pada masa ini individu mempunyai ciri dimana ia akan  berusaha mentekunkan memantapan dirinya melalui seluk-beluk pengalaman selama ia menjalani karir tertentu.
4)               Fase Pembinaan (Maintance)
Pada fase membinaan yaitu berkisar sekitar umur 45 tahun sampai 64 tahun, dimana dalam fase ini orang dewasa sudah mampu menyesuaikan dirinyan dalam penghayatan terhadap jabatannya.
5)               Fase Kemunduran (Decline)
Didalam fase ini, dimana seseorang akan memasuki masa pensiun. Setelah masuk pada masa pensiun makan mereka harus menemukan pola hidup baru setelah mereka melepaskan jabatan yang sebelumnya.
Kelima fase ini dianggap sangat berpengaruh pada munculnya sikap-sikap dan perilaku yang menyangkut pada suatu jabatan. Sikap dan perilaku ini akan nampak pada tugas-tugas perkembangan karir yang dilakukannya.
C.     Tugas -tugas Individu dalam Perkembangan Karir.
Dalam masa-masa tertentu seorang individu akan menghadapi tugas perkembangan karirnya. Tugas-tugas perkembangan karirnya, yaitu :
1)      Perencanaan garis besar masa depan (cristallization), ini antara usia 14-18 tahun, yang terutama bersifat kognitif dengan meninjau situasi dirinya sendiri dan situasi pada hidupnya.
2)      Penentuan (Specification), ini antara usia 18-24 tahun, yang ditandai dengan pengarahan diri kepada bidang jabatan tertentu dan mulai memegang jabatan itu.
3)      Pemantapan (Esteblisment) ini antara usia 24-35 tahun, yang ditandai dengan individu yang mampu membuktikan dirinya mampu dalam menegemban jabatan yang dipilihnya.
4)      Pengakaran (Consulidation). Individu berkisar antara usia sesudah 35 tahun sampai individu tersebut memasuki masa pensiunnya, yang ditandai dengan individu yang mencapai status social tertentu dan mendapatkan seniorlitas.
Berkaitan dengan tugas-tugas perkembangan karir, Super mengembangkan sebuah konsep kemantangan vokasional (career maturity), yang bertujuan pada keberhasilan individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan karirnya. Indikasi relevan bagi kematangan vokasional, contohnya adalah kemampuan untuk membuat rencana, keiklasan dalam bertanggung jawab, serta kesadaran akan segal factor internal dan eksternal yang harus dipertimbangan dalam pemgambilan keputusan jabatan atau memantabkan diri dalam suatu jabatan.
D.    PERSPEKTIF PEMBANGUNAN
MEMAHAMI KARIR DALAM RENTANG HIDUP.

Sementara bimbingan kejuruan tradisional berfokus pada pilihan pekerjaan dan prediksi keberhasilan kerja di beberapa titik kemudian dalam waktu, Super menekankan perlunya untuk memahami dan memprediksi karier. Ia mendefinisikan karier sebagai urutan pekerjaan, pekerjaan, dan posisi yang diselenggarakan selama seumur hidup, termasuk juga kegiatan prevocational dan postvocational. Super menegaskan bahwa apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam bimbingan kejuruan adalah model karir, yang memperhitungkan urutan posisi bahwa seorang individu menempati kehidupan selama dia bekerja. dalam karir pemahaman dipimpin Super untuk melihat ke dalam pola karir masyarakat yang menggambarkan salah satu aspek pembangunan kejuruan, urutan perubahan tingkat pekerjaan dan lapangan selama periode waktu. Meskipun pada awalnya "ditetapkan" oleh individu tingkat ekonomi sosial, pola tersebut juga ditentukan oleh kemampuan individu, ciri-ciri kepribadian, dan peluang yang mereka hadapi. Analisis pola karir mendukung pandangan bahwa siklus hidup membebankan tugas kejuruan yang berbeda pada setiap orang dalam kehidupan mereka. gambaran karya psikolog perkembangan dan sosiolog yang secara independen mempelajari tahapan kehidupan dan pekerjaan, Super dan rekan-rekannya menggariskan lima tahap utama pengembangan karir, dengan masing-masing ditandai dengan tiga atau empat tugas perkembangan yang sesuai: Pertumbuhan (kira-kira umur 4 sampai 13), tahap kehidupan pertama, periode ketika anak-anak mengembangkan kemampuan mereka, sikap, minat, bersosialisasi terhadap kebutuhan mereka, dan membentuk pemahaman umum tentang dunia kerja. Tahap ini mencakup empat tugas utama perkembangan karir: menjadi khawatir tentang masa depan, meningkatkan kontrol pribadi atas kehidupan sendiri, meyakinkan diri sendiri untuk mencapai keberhasilan di sekolah dan di tempat kerja, dan memperoleh kebiasaan kerja yang kompeten. Eksplorasi (Abad 14-24) adalah periode ketika individu mencoba untuk memahami diri sendiri dan menemukan tempat mereka di dunia kerja. Melalui kelas, pengalaman kerja, dan hobi, mereka mencoba untuk mengidentifikasi kepentingan mereka dan kemampuan dan mencari tahu bagaimana mereka cocok dengan berbagai jenis pekerjaan. Mereka membuat pilihan kerja sementara dan akhirnya memperoleh pekerjaan. Tahap ini melibatkan tugas-tugas karir dalam tiga pembangunan. Yang pertama, kristalisasi preferensi karir, adalah untuk mengembangkan dan merencanakan tujuan bimbingan sementara. Tugas berikutnya, spesifikasi preferensi karir, adalah untuk mengubah preferensi umum menjadi pilihan yang spesifik di dalam tujuan perusahaan kejuruan. Tugas kejuruan ketiga adalah implementasi perlakuan karir dengan menyelesaikan pelatihan yang tepat dan mengamankan posisi dalam pekerjaan yang dipilih. Pendirian panggung (25-44 tahun) adalah periode ketika individu, setelah mendapatkan posisi yang tepat di bidang yang dipilih dari pekerjaan, berusaha untuk mengamankan posisi awal dan mengejar peluang untuk kemajuan lebih lanjut. Tahap ini melibatkan tiga tugas perkembangan. Tugas pertama adalah menstabilkan atau mengamankan satu tempat dalam organisasi dengan beradaptasi dengan persyaratan organisasi dan melakukan tugas pekerjaan dengan hasil yang memuaskan. Tugas selanjutnya adalah konsolidasi posisi seseorang dengan mewujudkan sikap kerja yang positif dan kebiasaan produktif bersama dengan membangun hubungan rekan kerja yang menguntungkan. Tugas ketiga adalah untuk memperoleh kemajuan ke tingkat baru yang bertanggung jawab. Pemeliharaan (45-65) adalah masa penyesuaian terus menerus, yang meliputi tugas-tugas pengembangan karir memegang, menjaga, dan berinovasi. Orang-orang berusaha untuk mempertahankan apa yang telah mereka capai, dan untuk alasan ini mereka memperbarui kompetensi mereka dan menemukan cara-cara inovatif melakukan rutinitas pekerjaan mereka. Mereka juga mencoba untuk mencari tantangan baru, namun tanah baru biasanya sedikit rusak dalam periode ini. Pelepasan (lebih dari 65) adalah tahap akhir, masa transisi keluar dari angkatan kerja untuk memahami diri sendiri dan menemukan tempat mereka di dunia kerja. Pada tahap ini, individu menghadapi tugas perkembangan dari perlambatan, perencanaan pensiun, dan hidup pensiun. Dengan energi yang menurun dan minat dalam pekerjaan, orang berangsur-angsur melepaskan diri dari kegiatan kerja mereka dan berkonsentrasi pada perencanaan pensiun. Pada waktunya, mereka membuat transisi ke hidup pensiun dengan menghadapi tantangan pengorganisasian pola hidup baru. Super model membatasi tahap kedua dengan usia batas dan spidol tugas. Awalnya, Super melihat sebagai tahap kronologis, tetapi kemudian ia juga mengakui usia independen, tugas berpusat pandangan tahap. Misalnya, individu memulai karir baru di masa dewasa setelah mereka mungkin melalui eksplorasi dan tahap pembentukan. Jadi lima tahap tersebut menyebar di seluruh rentang hidup seseorang, atau "maxicycle," mungkin juga mengalami "minicycles" dalam setiap tahap maxicycle. Individu mengalami siklus dan daur ulang sepanjang masa hidup mereka karena mereka beradaptasi dengan perubahan internal mereka sendiri atau berubah menjadi peluang yang mereka hadapi. Super berasumsi bahwa tidak semua orang berkembang melalui tahapan pada usia tetap atau dengan cara yang sama. Gagasan ini menyebabkan dia untuk mengembangkan dan menguraikan serta membangun kematangan karir (awalnya disebut kematangan bimbingan kejuruan), yang menunjukkan kesiapan individu untuk membuat keputusan karir. Secara operasional, itu didefinisikan sebagai sejauh mana seorang individu telah menyelesaikan tugas-tugas perkembangan karir sesuai tahap dan dibandingkan dengan orang lain pada usia yang sama. Super dan rekan-rekannya mengabdikan banyak usaha untuk mendefinisikan pemahaman ini dan mengembangkan langkah-langkah yang tepat. Mereka mengidentifikasi lima dimensi utama kematangan bimbingan kejuruan: "planfulness" atau kesadaran akan kebutuhan untuk merencanakan ke depan, kesiapan untuk eksplorasi, kompetensi informasi (yang terdiri dari pengetahuan tentang pekerjaan, pekerjaan, dan peran kehidupan karir), ketrampilan pengambilan keputusan, dan orientasi realitas. Super percaya bahwa orang muda harus cukup dewasa untuk memanfaatkan penilaian karir dan konseling. Pada orang dewasa, di mana daur ulang melalui tahap karir tergantung pada usia, Super menyarankan bahwa kesiapan untuk pengambilan keputusan karir disebut sebagai adaptasi karir.

E.     PERSPEKTIF GEJALA ALAM:
GAGASAN KONSEP KERJA DIRI

Dalam catatannya tentang perilaku bimbingan kejuruan, Super tergabung dalam pandangan ide perkembangan bahwa orang mendasarkan keputusan karir mereka pada keyakinan tentang kemampuan mereka sendiri dan atribut diri. Dia melihat pilihan karir sebagai proses pelaksanaan konsep pribadi, peran kerja sebagai manifestasi pendirian, dan pengembangan karir sebagai proses aktif meningkatkan pertandingan antara konsep diri seseorang dan lingkungan kerja. Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara orang melihat dirinya sendiri. Sebagai contoh, seorang wanita muda mungkin percaya bahwa dia adalah terang dan kreatif, percaya diri, sopan dalam perilaku, dan mau bertanggung jawab. Ini gabungan dari keyakinannya tentang kemampuan sendiri, sifat, dan nilai-nilai membentuk konsep dirinya. Karena konsep diri merupakan fenomena subyektif atau penampilan dalam pengalaman, perspektif ini sering dilambangkan sebagai fenomenologis. Super menerima pandangan bahwa konsep diri adalah pusat untuk memahami perilaku seseorang. Ini adalah produk dari interaksi karakteristik seseorang mewarisi makeup saraf dan endokrin, kesempatan untuk memainkan berbagai peran, dan hasil yang dihasilkan dari keberhasilan bermain peran. Pembentukan konsep diri dimulai pada masa bayi ketika rasa identitas dikembangkan. Ketika mereka tumbuh, individu mengembangkan citra pribadi kemampuan mereka sendiri, ciri kepribadian, nilai-nilai, dan peran. Mereka kemudian membandingkan gambar ini subjektif dari diri dengan apa yang mereka tahu tentang pekerjaan di dunia, dan mereka kemudian mencoba untuk menerjemahkan konsep-diri mereka ke dalam perspektif kerja. Hasilnya adalah konsep kerja pribadi, yang didefinisikan oleh Super sebagai konstelasi diri yang relevan bagi individu. konsep diri kerja pada akhirnya dapat berubah menjadi preferensi kejuruan. Super percaya bahwa proses pengembangan karir dapat dibimbing, antara lain, dengan membantu subjek untuk mengembangkan dan menerima konsep pekerjaan mereka. Dengan demikian proses memilih karir dan pengembangan pada dasarnya yang mengembangkan dan menerapkan konsep adalah pribadi masing-masing. Tingkat kepuasan masyarakat dalam mencapai peran kerja, menurut Super, sebanding dengan sejauh mana mereka telah berhasil dalam usaha mereka untuk menerapkan konsep diri. Usaha ini, bagaimanapun, membutuhkan penyesuaian pribadi terus menerus, mengembangkan konsep diri dan mengubah seluruh kehidupan manusia seperti halnya juga hidup dan bekerja di lingkungan mereka. Hal ini membuat pilihan karir dan penyesuaian proses dapat berkesinambungan.

F.      KONTEKSTUAL PERSPEKTIF: PERAN SOSIAL DAN INTERAKSI MEREKA DALAM RENTANG HIDUP

Segmen ketiga teori super yang membawa pada konteks pandangan yaitu, pandangan pengembangan karir dalam semua peran konteks kehidupan yang ditetapkan oleh individu. Peran kerja, meskipun penting untuk beberapa orang dalam budaya kita, hanya salah satu di antara peran kehidupan bahwa seorang individu menempati posisi dalam hidupnya. Tak satu pun dari peran dapat dipahami dengan benar tanpa memperhitungkan konstelasi seluruh peran. Sudah dalam tulisan-tulisan awal teoritis, Super menyebutkan bekerja sebagai cara hidup dan mencatat bahwa penyesuaian kejuruan yang memuaskan hanya mungkin terjadi ketika kedua sifat pekerjaan dan cara hidup melengkapi bakat individu, kepentingan, dan nilai-nilai. Namun, hal ini saling bergantung dari berbagai bidang kehidupan, yang lebih lengkap dibahas dalam tulisan-tulisan selanjutnya, ketika dia mengembangkan rentang hidupnya, pandangan untuk pengembangan karir dan menggambarkannya secara grafis di kehidupan karirnya. Super menyusun ruang hidup sebagai kumpulan fungsi sosial yang diatur dalam pola peran inti dan sekelilingnya. Orang-orang memainkan berbagai peran selama hidup mereka. Beberapa dari mereka mulai di awal perjalanan hidup (misalnya anak), kemudian yang lain (misalnya siswa), atau masih lambat (misalnya, pensiunan). Pada beberapa tahap kehidupan, sejumlah peran simultan (misalnya pekerja, pasangan, ibu rumah tangga, orang tua, dan warga negara) mungkin merupakan struktur kehidupan individu. Namun, biasanya dua atau tiga peran yang menonjol atau relatif lebih penting daripada yang lain. Peran sangat penting dalam kehidupan seseorang dan merupakan inti dasar bagi identitas seseorang dan penting bagi kepuasan hidup. Fakta bahwa orang memainkan peran beberapa simultan berarti bahwa peran berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Interaksi antara peran dapat mendukung, tambahan, kompensasi, atau netral.
Hal ini juga dapat bertentangan jika beberapa dari peran menyerap terlalu banyak dari waktu yang tersedia dan energi. Sebagai soal fakta, bagi kebanyakan orang interpenetrasi dari berbagai bidang kehidupan tidak bisa dihindari dalam beberapa tahap kehidupan. Dengan menggabungkan ruang hidup dengan masa hidup-atau perspektif perkembangan, model Rainbow menunjukkan bagaimana perubahan konstelasi peran dengan tahap kehidupan. Sebagaian Super mencatat, kehidupan akan berkurang dari waktu ke waktu. Akun sederhana memang diperlukan dengan jelas untuk menekankan titik yang terlalu-sering terlupakan dalam karir masyarakat dan tidak dapat dipahami di luar konteks sosial mereka. Untuk memahami karir individual, maka perlu untuk menjelajahi seluruh web-nya atau peran hidupnya. Setelah semua, menurut pandangan yang lebih baru dari Super, itu adalah konstelasi interaksi peran yang merupakan karir.

BAB III PENUTUP
A.    KESIMPULAN

Mungkin ide yang paling penting dari Super adalah prinsip bahwa pilihan pekerjaan harus dilihat sebagai proses berlangsung. Yang cukup menarik, bangunan teorinya juga merupakan proses berlangsung, ia terus meningkatkan dan memperbaiki teorinya sepanjang hidupnya. Jadi teorinya juga berkembang melalui berbagai tahapan yang dapat ditelusuri dalam modifikasi nama mereka: dari Teori Pengembangan Karir asli untuk Developmental Self-Konsep Teori, dan kemudian ke Teori Life-Span saat ini berlaku, life-Space. Super memasukkan ide-ide dari para pendahulu untuk mengkompilasi sebuah badan integratif pengetahuan yang terdiri dari berbagai perspektif pada pengembangan karir. Hasilnya adalah perhitungan teoritis yang komprehensif tetapi juga fragmental. Super sendiri mengakui bahwa segmen yang berbeda dari teori perlu dicampur bersama-sama lebih teliti. Dia berharap tugas ini pada akhirnya akan dicapai oleh teori masa depan. Namun, terlepas dari keengganannya untuk menyajikan pernyataan teoritis yang lebih pelit dan koheren, teori nya adalah yang paling menarik. Bersama dengan para pengikutnya, dia memiliki, dan terus memiliki, dampak yang besar pada penelitian sebagai mata pelajaran utama pengembangan karir dan konselor


Daftar pustaka:
1.         —Branimir Å verko See also Career maturity, Crystallization of the vocational selfconcept, Erikson’s theory of development, Life-Career Rainbow, Self-concept Further Readings and References Super, D. E. 1953. “Career Patterns as a Basis forVocationalCounseling.” Journal of Counseling Psychology 1:12-20.
2.         ———. 1953. “A Theory of Vocational Development.” American Psychologist 8:185-190.
3.         ———. 1957. The Psychology of Careers. New York: Harper & Row.
4.         ———. 1963. “Self-concepts in Vocational Development.” Pp. 1-16 in Career Development: Self-concept Theory, edited by D. E. Super, R. Starishevski, N. Matlin, and J. P. Jordaan. New York: College Entrance Examination Board.
5.         ———. 1963. “Toward Making Self-concept Theory Operational.” Pp. 17-31 in Career Development: Selfconcept Theory, edited by D. E. Super, R. Starishevski, N. Matlin, and J. P. Jordaan. New York: College Entrance Examination Board.
6.         ———. 1964. “A Developmental Approach to Vocational Guidance: Recent Theory and Results.” Vocational Guidance Quarterly 13:1-10.
7.         ———. 1980. “A Life-span, Life-space Approach to Career Development.” Journal of Vocational Behavior 16:282-298. Super, D. E., Crites, J. O., Hummel, R. C., Moser, H. P., Overstreet, P. L. and Warnath, C. F. 1957. Vocational Development: A Framework for Research. New York: Bureau of Publications, Teachers College, Columbia University. Super, D. E., Savickas, M. L. and Super, C. M. 1996. “The Life-span, Life-space Approach to Careers.” Pp. 121-178 in Career Choice and Development. 3d ed., edited by D. Brown, L. Brooks, and Associates. San Francisco, CA: Jossey-Bass.






BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Saat ini kita hidup dalam dunia yang kompleks, sibuk, dan terus berubah. Hal tersebut membuat beberapa masalah, khususnya dalam dunia karir. Dalam dunia karir masalah-masalah yang muncul banyak dialami oleh banyak orang, misalnya masalah dalam pemilihan pekerjaannya, yang selayak sebagai pegangan untuk kehidupannya, belum adanya suatu ketetapan pemilihan karir yang tepat, masalah bingung atas suatu pekerjaannya. Hal tersebut membuat beberapa masalah yang dapat menggagu dalam proses karirnya.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam dunia karir, salah satu di antaranya adalah dengan memberikan berbagai lapangan pekerjaan yang secara layak, serta memberikan suatu motivasi maupun arahan serta solusi yang tepat untuk proses pemilihan karirnya nanti. Permasalahan-permasalahan dalam dunia karir bahkan tiap orang berbeda-beda, oleh karena itu dibutuhkan solusi yang berbeda pula sehingga beberapa teori-teori tentang karir kini bermunculan, dari berbagai aspek maupun lingkungan yang berbeda-beda pula.
Dalam melakukan suatu hal untuk proses pekerjaan karir tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, maka dari itu muncul istilah konselor, maupun orang yang ahli tentang suatu pekerjaan karir didalam kehidupan ini. Konselor maupun para pakar lainnya memberikan solusi  serta pemahaman teori-teori yang dapat menunjang pada masalah-masalah yang diharapkan dapat membantu dalam dunia karir, bagaimanapun orang membutuhkan sebuah pekerjaan yang selayaknya yang bisa mencukupi dan mampu untuk kebutuhan hidupnya.
Tapi konselorpun harus mengerti mengenai teori dalam karir ini, dimana karir menyangkut dengan berbagai  aspek sosial, teori sosial kognitif menyatakan bahwa faktor sosial, kognitif serta faktor perilaku, memainkan peran penting dalam proses pembelajaran, maka dalam hal ini peranan kepribadian seseorang sangat penting dan membantu dalam proses karirnya, dimana aspek sosial berhubungan dengan karir seseorang, hal ini agar konselor mampu untuk mengatasi masalah dengan cara yang tepat yang sesuai dengan teori-teori maupun landasan dalam kehidupan sosial.
Maka dalam makalah ini yang akan dibahas adalah mengenai sosial teori kognitif karir Diharapkan dengan makalah ini, maka pembaca akan mampu mengerti, memahami, dan mengaplikasikan apa yang ada dalam makalah ini.





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Karir Kognitif Sosial
Teori karir kognitif sosial,pertama kali di publikasikan pada tahun 1994 dan telah memberikan dampak yang besar mengenai permasalahan karir. Teori ini munculdari penelitian awal Albert Bandura dan penekanannya pada model triadik atau harmoni mutual fundamental, yang menganggap bahwa atribut, lingkungan dan perilaku yang tampak, saling bersinggungan dalam keterkaitan dua arah (Samuel T. Glading, 2012, pg 415)
Proposisi dari SCCT yang paling utama adalah sebagai berikut :
1.      Interaksi antara orang dalam lingkungannya sangatlah dinamis ( misalnya mereka saling mempengaruhi )
2.      Perilaku yang berhubungan dengan karir dipengaruhi oleh empat aspek dari seseorang : perilaku, efisiensi diri, hasil yang diharapkan, dan tujuan selain karakteristik yang ditemukan secara genetik.
3.      Keyakinan akan efisiensi diri dan hasil yang diharapkan berinteraksi secara langsung untuk mempengaruhi perkembangan minat.
4.      Sebagai tambahan dari hasil yang diharapkan , faktor-faktor seperti “ jenis kelamin, ras, kesehatan fisik, dan variabel lingkungan mempengaruhi perkembangan efisiensi diri”.
5.      Pilihan karir aktual dan penerapannya dipengaruhi oleh sejumah variabel yang langsung dan tidak langsung selain efsiensi diri, harapan, dan tujuan  misalnya diskriminasi, veriabel ekonomi, dan kesempatan yang terjadi. 6.
6.      Semua sederajat, orang dengan tindak kemampuan tinggi dan keyakinan efisiensi diri yang terkuat mempunyai performa yang juga sangat tinggi (Samuel T. Glading, 2012, pg 415)


Salah satu asumsi penting lainnya dari SCCT adalah bahwa “efisiensi diri dan minat saling berhubungan” dan minat dapat dikembangkan dan diperkuat dengan menggunakan pemodelan, dukungan, dan yang paling kuat, dengan memperkuat performa. Oleh karena itu, kelompok-kelompok klien seperti wanita(minoritas) yang mempunyai sedikit kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktifitas tertentu karena diskriminasi jenis kelamin, dapat mengambil keuntungan dari penerapan teori Brown.
Teori karir kognitif sosial dapat digunakan pada sejumlah lingkungan. Sebagai contoh, dapat digunakan kepada remaja pedesaan guna membantu mereka mengembangkan, mengubah dan mengejar karir yang diminatinya (Samuel T. Glading, 2012, pg 416). Teori ini juga dapat digunakan sebagai siswa Unversitas generasi pertama yang membutuhkan informasi yang akan digunakan melawan kepercayaan tidak benar yang mereka punyai .Secara keseluruhan interfensi berdasarakan SCCT adalah membahas baik variabel intraindividual maupun kontekstual dalam perkembangan karir.
(Krumboltz dan Samuel T. Glading , 2012) telah merumuskan suatu pendekatan pengembangan karir yang sama lengkapnya tetapi kurang mengarah ke kognitif-sosial. Dia menyatakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi pilihan karir seseorang :
a)      Keturunan genetik
b)      Kondisi dan peristiwa yang terjadi di lingkungan
c)      Pengalaman belajar
d)     Kemampuan pendekatan tugas ( misalnya nilai-nilai, kebiasaan kerja )
Merurut Krumboltz, keputusan karir dikendalikan oleh proses internal, dan eksternal. Ada pembelajaran berkelanjutan yang menghasilkan apa yang disebut Krumboltz :
a.      Generalisasi observasi diri, sebagai pernyataan diri yang terbuka maupun tertutup terhadap evaluasi yang mungkin benar atau mungkin tidak benar.
b.      Keahlian pendekatan tugas, upaya seseorang untuk memproyeksikan generalisasi pernyataan dirimereka ke-masa depan dengan tujuan untuk memprediksi peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
c.       Tindakan, penerapan dari perilaku, seperti melamar pekerjaan.
Secara keseluruhan, kekuatan teori Kumboltz adalah bahwa teori tersebut memandang orang sebagai individu yang memiliki kemampuan, untuk mengendalikan peristiwa - peristiwa yang mereka anggap memberikan kekuatan tambahan. Sementara dunia dan manusia berubah, orang dapat belajar memanfaatkan kesempatan pembelajaran yang ada dan membuat keputusan karir dengan tepat. Kesimpulannya adalah, menjelaskan pendekatan dinamik terhadap konseling karir yang dapat diterapkan pada pria maupun wanita, seperti halnya pada rasdan etnis minoritas yang mempunyai perspektif individual.

2.2 Teori Belajar Sosial
Pendekatan Belajar Sosial  Terhadap Teori Perkembangan Karir (Social Learning Approaches To Career Development Theory) menekankan pada pentingnya perilaku dan kognisi dalam membuat keputusan karir. Pembuatan keputusan karir individu dipengaruhi oleh lingkungan (proses pembelajaran sosial) terutama dari orang lain yang berarti signifikan (significant other). Dalam mengambil keputusan individu dapat mengamati, meniru, dan mencontohi orang-orang yang ada disekelilingnya, jika apa yang diamatinya itu sesuai dengan keinginan individu, maka apa yang diamatinya itu dapat direalisasikannya menjadi sebuah perilaku. Kombinasi antara hereditas, lingkungan, sejarah, atau pengalaman belajar dan pendekatan keterampilan atau keahlian adalah hal yang patut diperhatikan dalam pembuatan keputusan karir.
Bandura, Hackett, dan Bitz (Osipow, 1983) berpendapat bahwa keputusan yang tepat tentang kemampuan diri sendiri biasanya diperoleh melalui perbandingan  gambaran kemampuan yang satu dengan kemampuan yang lain. Okiishi (1987) berasumsi bahwa ada pengaruh dari orang lain yang berarti (significant other) terhadap individu dalam perencanaan dan pemilihan karir. Artinya, terdapat pengaruh lingkungan (pembelajaran sosial) dalam pengambilan keputusan karir individu ( Uman Suherman, 2007)
Teori belajar merupakan upaya luar biasa John Krumboltz dan C. Nichols (1990) dan rekan – rekannya untuk mengadaptasikan teori Behavioral Bandura (1977) untuk pengambilan keputusan karir. Pada tahun 1996, Mitchell dan Krumboltz menambahkan pendekatan awal teori belajar sosial  tersebut hingga mencakup nasihat kalau seluruh teori dirujuk sebagai teori belajar konseling karir (LTCC). Teori ini menyatakan kalau empat kategori faktor berpengaruh bagi pengembangan karir dan pengambilan keputusan individu. Faktor – faktor ini mencakup sebagai berikut :
1.      Bawaan genetik dan bakat istimewa.
2.      Kondisi lingkungan dan kejadian.
3.      Pengalaman belajar.
4.      Keterampilan pendekatan tugas.
Menurut Mitchell dan Krumboltz (Manrihu, 1985; Sharf, 1992) ada empat kategori faktor  yang mempengaruhi pengambilan keputusan karir, yaitu:
1.      Bawaan genetik dan kemampuan - kemampuan khusus
2.      Kondisi - kondisi dan peristiwa - peristiwa lingkungan
3.      Pengalaman - pengalaman belajar
4.      Keterampilan - keterampilan dalam menghadapi tugas
Menurut Krumboltz  dan Baker (Munadir, 1996: 101) kemampuan - kemampuan yang penting dalam pengambilan keputusan karir, adalah sebagai berikut:
1.      Mengenai situasi keputusan yang penting;
2.      Menentukan keputusan apa atau tugas yang dikelola dan yang realitas;
3.      Memeriksa dan menilai secara cermat dan generalisasi observasi diri dan generalisasi pandangan atas  dunia;
4.      Menyusun alternatif-alternatif  yang luas dan beragam;
5.      Mengumpulkan informasi yang diperlukan tentang alternatif-alternatif itu;
6.      Menentukan sumber informasi yang handal, cermat dan relevan; dan
7.      Merencanakan dan melaksanakan urutan langkah-langkah pengambilan keputusan (Gibson Robert L, 2011).
Ada tiga prosedur / teknik perlaku konselor yang di ambil dari pendekatan belajar sosial terhadap teori perkembangan karir (Social Learning Approaches To Career Development Theory) dalam proses konseling karir (Crites,1986) yaitu :
a)      Penguatan reinforcement , dalam teknik ini konselor membantu klien dalam hal penyelesaian tujuan dari konseling karir yaitu memilih alternaitf karir yang tepat.
b)      Penggunaan peranan model  role model , dalam teknik konselor membantu konseli dengan bertindak sebagai model atau dengan menyediakan model peran terhadap mereka. Dengan menggambarkan cara membuat keputusan yang tepat dan strategi pembuatan keputusan yang efektif, konselor menjadi model peran bagi konseli.
c)      Simulasi simulation  kegiatan ini dapat membantu klien dalam memsimulasikan suatu pengalaman karir.
Krumboltz dan Hammer (Sharf, 1992:286-296) mengatakan ada tujuh langkah dalam pengambilan keputusan karir yang disingkat dalam kata DECIDES, Yaitu :
a.       Mengidentifikasi masalah ( define the problem ). Tahap ini bukan hanya bertujuan untuk memperjelas masalah konseli dengan konselor tapi juga mencapai kesepakatan bersama yang saling menguntungkan.
b.      Membuat rencana kegiatan ( establish an action plan).  Tahap ini terdiri dari seluruh uraian dalam menentukan proses, konseli tidak hanya membuat resolusi karir, tetapi juga belajar menentukan pembuatan proses yang akan dilakukan.
c.       Mengklarifikasi nilai (clarify values). Pada langkah ini konselor dapat mendiskusikan nilai konselinya dengan belajar dari pengalaman yang lalu, membandingkan nilai tes dengan pengalaman nyata didalam pekerjaannya.
d.      Mengidentifikasi pilihan ( identify alternatives). Untuk mengidentifikasi pilihan konselor dan konseli memerlukan penilaian diri, penelitian turunan tentang kepentingan dan kedudukan, selebaran dan pengalaman.
e.       Mengetahui dampak-dampak masalah ( discover probable outcomes). Dalam proses menemukan kemungkinan ( autcomer), para konselor harus sangat hati-hati dan tidak memberikan pengaruh lebih kepada konseli ( outcomer ) yang akan dicapai.
f.       Mengeliminasi beberapa alternative secara sistematis ( eliminate alternatife systematically).  Krumboltz dan Hammer (Sharf, 1992-1997) mengelompokan berbagai alternatif yang mempunyai kesamaan karakter dan kemudian menghapus alternatif  terakhir jika individu tidak dapat memutuskan antara dua pilihan, Krumboltz dan Hammer melanjutkan dengan melihat perbedaan antara alternatif-alternatif.
g.      Mulai bertindak ( start action ) ketika pilihan telah dibuat, kemudian individu mulai menentukan langkah konkrit untuk mencapai tujuan pekerjaannya.
Pendekatan belajar sosial terhadap teori perkembangan karir (Social Learning Approaches To Career Development Theory) tidak begitu mengutamakan testing dalam proses konseling karir, tetapi merupakan bagaian penting dari beberapa teori perkembangan karir lainnya. Menurut pendekatan ini keyakinan konseli  individu adalah bagian integral dari proses pembuatan keputusan karir. Career Belirf Inventory (CBI) sangat membantu dalam kelancaran pembuatan keputusan karir.

2.3. Kepribadian dan Budaya Pengaruh pada Sosial Variabel Karir Kognitif

Bahwa perilaku tertentu akan membawa hasil tertentu, tetapi tidak percaya bahwa ia memiliki kemampuan untuk berhasil melakukan perilaku. Sebagaimana dibahas sebelumnya, self-efficacy merupakan penentu perilaku yang lebih kuat dari ekspektasi hasil. Bandura (1986) lebih lanjut menambahkan bahwa self-efficacy espectations bertindak moderator untuk harapan hasil. Misalnya, jika perilaku yang diberikan diketahui untuk membawa hasil yang diinginkan, tetapi individu merasa dia tidak dapat melakukan itu perilaku, individu mungkin tidak akan terlibat atau mengikuti perilaku tersebut. Hasil harapan beroperasi dengan self-efficacy keyakinan untuk memprediksi minat karir, pilihan, dan perilaku (Prapaskah et al, 1993). Seperti keyakinan self-efficacy, ekspektasi hasil yang dipengaruhi oleh sumber pengalaman serupa informasi keberhasilan. Individu “penilaian dari kemungkinan konsekuensi dari tindakan yang diinformasikan oleh hasil ekstrinsik prestasi kinerja sebelumnya, mengamati hasil orang lain'” kegiatan, mendengarkan rekening orang ketiga dari hadiah mungkin, dan mengingat setiap negara fisiologis atau emosional.
Hal utama sumber motivasi adalah konsep tujuan pribadi atau tindakan. Tujuan tersebut didefinisikan sebagai tekad untuk terlibat dalam kegiatan tertentu atau untuk mempengaruhi hasil masa depan tertentu (Prapaskah et al, 1994., P. 85). Menurut Lent et al. (1994), tindakan, pilihan, atau tujuan pribadi, dimediasi oleh kepentingan karir. Seorang individu pertama harus mengembangkan minat sebelum membuat pilihan atau mengembangkan tujuan.Self-efficacy keyakinan dan harapan hasil yang dihasilkan dari pengalaman belajar menginformasikan perkembangan bunga yang, pada gilirannya, menyebabkan tindakan atau tujuan pribadi. Kemampuan untuk menetapkan tujuan menunjukkan bahwa orang memiliki kemampuan untuk terlibat dalam tindakan terarah dan self-directed (Prapaskah et al., 1994).
Bandura (1997) individu tidak hanya dilihat sebagai produk dari konteks sosial mereka, tetapi juga produsen dari mereka. SCCT nya menyoroti "situasi dan domain-spesifik sifat perilaku, aspek yang relatif dinamis dari sistem diri, dan sarana yang memungkinkan individu menjalankan hak pribadi" (Prapaskah et al, 1994., P. 82). Bandura (1989) menambahkan bahwa orang menarik pada kognisi mereka, efek, keterampilan perilaku, dan lingkungan dalam mengambil keputusan. Selain itu, orang memantau dan mengevaluasi hasil kognisi mereka, efek, keterampilan perilaku, dan lingkungan dalam mengambil keputusan. Selain itu, orang memantau dan mengevaluasi hasil dari tindakan mereka dan menggunakan informasi tersebut untuk merumuskan rencana masa depan. Menerapkan teori sosial kognitif Bandura ke daerah pilihan karir dan preferensi menyebabkan teori cognitivecarrer sosial, dan seperti yang diusulkan oleh Prapaskah, et al. (1994) menyarankan sebagai kerangka yang solid untuk memahami perkembangan karir.
Sosial Kognitif Teori CarrerBetz dan Hackett (1981) yang pertama kali memperkenalkan konstruk keyakinan self-efficacy untuk memahami pengembangan karir perempuan. Mereka mendefinisikan carrer self-efficacy sebagai penilaian keberhasilan pribadi dalam hubungannya dengan berbagai perilaku yang terlibat dalam Chois karir dan penyesuaian. Carrer self-efficacy teori (Betz & Hackett, 1981) mengusulkan bahwa carrer self-efficacy bermain sebagai bagian penting dari pengembangan karir individu. Kognitif Sosial Karir Teori (SCCT), pengembangan oleh Prapaskah, Brown, dan Hackett (1994, 1996), berasal dari teori sosial kognitif Bandura dan juga perpanjangan Betz dan Hackett s (1981) aplikasi self-efficacy teori.
2.4 Psikologi Konseling
Sosial kognitif karir teori (SCCT, Prapaskah, coklat, & Hackett, 1994, 2000) telah menghasilkan banyak penelitian dalam beberapa tahun terakhir. (1197) Teori Bandura harapan self efficacy diperkenalkan ke literatur karir dengan Hackett dan Betz (1981) dan selanjutnya dihasilkan dan model kognitif sosial yang komprehensif pengembangan bunga, pembuatan pilihan, dan kinerja. Teori ini mencakup beberapa blok bangunan, dimulai dengan tiga "variabel orang" self-efficacy keyakinan, harapan hasil, dan tujuan pribadi yang berasal dari ( teori Bandura, 1986).
Harapan efikasi diri adalah "penilaian orang tentang kemampuan mereka untuk mengatur dan melaksanakan program tindakan yang diperlukan untuk mencapai jenis ditunjuk kinerja" (Bandura, 1986, p.391). harapan hasil mengacu pada keyakinan tentang hasil atau konsekuensi tertentu, perilaku, dan tujuan pribadi niat untuk terlibat dalam kegiatan tertentu atau untuk bekerja tujuan tertentu. Tujuan pribadi termasuk "tujuan konten pilihan yaitu, jenis kegiatan atau karir yang keinginan individu untuk mengejar dan tujuan kinerja, tingkat atau kualitas kinerja rencana individu untuk mencapai '(Lent2005, p.105). Model juga termasuk variabel - variabel demografis seperti gender dan etnis, variabel traitlike tradisional seperti kemampuan diukur dan nilai-nilai dan "affordances latar belakang kontekstual" (qualitites lingkungan, didefinisikan secara luas) untuk menentukan kualitas pengalaman belajar yang membentuk efikasi diri dan harapan hasil. Efiicacy dan hasil harapan yang didalilkan untuk berhubungan satu sama lain dan untuk mempengaruhi perkembangan bunga, kepentingan, bersama dengan harapan keberhasilan dan hasil, tujuan mempengaruhi pilihan, dan semua empat dari tindakan pilihan pengaruh mantan. Faktor-faktor kontekstual proksimal (mendukung lingkungan dan hambatan dekat titik pembuatan pilihan) juga mempengaruhi tujuan pilihan dan tindakan. Akhirnya, tindakan pilihan yang mendalilkan mempengaruhi kinerja dan pencapaian domain, termasuk stabilitas pilihan dari waktu ke waktu.







BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan teori karir kognitif sosial, minat karir dibentuk melalui pengalaman langsung atau berkesan yang menyediakan peluang bagi individu untuk berlatih, menerima umpan balik dan mengembangkan keterampilan yang mengarahkan efikasi personal dan harapan dari hasil yang memuaskan (Lent, Brown and Hackett dalam Farzier and Niehm, 2008).
Dalam teori ini menjelaskan bagaimana suatau pengalaman yang dialaminya adalah sebuah harapan yang dimana nanti akan tumbuah sebuah peluang dan harapan-harapan individu dalam mengejar suatu karir, diaman orang dapat mengembangkan karir mereka, tapi dibalik karir yang dimilikinya seorang setidaknya harus memiliki ketrampilan-ketrampilan yang dapat mendukung karirnya. Seorang individu pertama harus mengembangkan minat sebelum membuat pilihan atau mengembangkan tujuan. Minat adalah sumber motivasi diri, atau sebuah perencanaan yang dapat membuat dirinya lebih bersemangat dan berkesan untuk mengembangkan karir yang dimilikinya. Ada sebuah self-efficacy yang dimiliki dapat membantu individu.
Menurut psikolog Albert Bandura, self-efficacy adalah keyakinan kita dalam kemampuan kita untuk berhasil dalam situasi tertentu. Konsep memainkan peran utama dalam teori belajar sosial Bandura, yang berfokus pada bagaimana kepribadian dibentuk oleh pengalaman sosial dan pembelajaran observasional. Rasaself-efficacy memiliki pengaruh besar pada bagaimana anda mendekati tantangan dan tujuan. Ketika dihadapkan dengan tantangan, apakah anda percaya bahwa anda dapat berhasil atau anda yakin bahwa anda akan gagal? Orang dengan kuat self-efficacy adalah mereka yang percaya bahwa mereka mampu melakukan dengan baik. Orang-orang ini lebih cenderung untuk melihat tantangan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, bukan dihindari.
Pendekatan Belajar Sosial  Terhadap Teori Perkembangan Karir (Social Learning Approaches To Career Development Theory) menekankan pada pentingnya perilaku dan kognisi dalam membuat keputusan karir. Pembuatan keputusan karir individu dipengaruhi oleh lingkungan (proses pembelajaran sosial) terutama dari orang lain yang berarti signifikan (significant other), hal-hal yang penting lainnya. Dalam mengmbil keputusan individu dapat mengamati, meniru, dan mencontohi orang-orang yang ada disekelilingnya, jika apa yang diamatinya itu sesuai dengan keinginan individu, maka apa yang diamatinya itu dapat direalisasikannya menjadi sebuah perilaku.
Menurut Mitchell dan Krumboltz (Manrihu, 1985; Sharf, 1992) ada empat kategori faktor  yang mempengaruhi pengambilan keputusan karir, yaitu:
1.      Bawaan genetik dan kemampuan—kemampuan khusus
2.      Kondisi-kondisi dan peristiwa-peristiwa lingkungan
3.      Pengalaman-pengalaman belajar
4.      Keterampilan-keterampilan dalam menghadapi tugas












BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Gladding, Samuel T.2012. Konseling Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta :Indeks
Suherman AS., Uman, (2007). Komseling Karir Sepanjang Rentang Kehidupan. Bandung: Bimbingan dan Konseling Sekolah Pasca Sarjana UPI.
Robert L. Gibson, Marianne H. Mitchell. Bimbingan dan Konseling . Yogyakarta . 2011. Pustaka Pelajar.